Aku tengah membaca puisi
Tentang ombak yang bergulir di bawah kaki
Tentang gunung yang tak lagi terlihat tinggi
Tentang angin yang melabuhkan sampan ke tepi
Kita adalah sepasang pelukan yang berdiri di tepian
Terpisah masa lalu yang pergi tanpa mengucap salam
Kisah-kisah yang ingin diucapkan telah habis dimakan waktu
Membeku dan terlupa
Aku berhias dalam balut wajah religius
Jubahku gemerisik disapa angin yang berhembus
Aku berada di jalan paling lurus
Menghadap Tuhan dengan hati paling tulus
Rasanya itu baru kemarin
Aku melihat wajah penuh senyum bercaping bambu berdiri di bawah siraman hujan menungguku
Tak peduli basah tak peduli dingin meski hanya berbalut kaos tipis dan celana pendek warna kelabu
Kala mataku terpejam, senyum itu masih terbayang
Tatapan mata nan sendu, penuh sayang
Uluran tangan nan lembut, penuh kehangatan
Dan kata-kata terakhir, meski diiringi keterbataan
Duhai ayah.. Duhai ibu..
Sungguh rindu aku rindu
Berada dalam dekapmu
Sungguh rindu aku rindu...
Semalam aku hampir saja tak bisa tidur. Karena sepertinya ingatanku tentangmu mulai mengabur. Merajut kembali kisah tentang mu membuatku terpaksa harus bekerja lembur.
Untunglah pagi segera datang. Menyelamatkan nyawaku yang hampir meregang. Menahan rindu setiap kali malam mulai menjelang.
Diantara temaram dan suara nafas yang tertahan, aku merenung dalam kesendirian
Kepalaku penuh dengan pertanyaan tentang arah dan tujuan
Kemana langkah ini akan kubawa berjalan?
Sedang aku masih tersesat di tanah lapang tanpa tuan
Kamu datang kepada hati yang kosong karena Allah
Mana ku tau kamu akan mengetuk pintu hati itu dan menyapa ke kediamanku?
Kamu pergi pun karena Allah
Mana ku tau kamu bawa sebelah hatiku untuk kamu simpan di dalam hatimu?
Dalam irisan tart berwarna pekat
Bernama Devil's Food Cake serupa laknat
Adalah kopi negeri Indian sebagai sejawat
Di sebuah cafe dengan lagu yang terus menghentak
Aku adalah serpih kenangan yang tertinggal di tepi jalan
Yang berdoa di kala malam, berharap di jemput tuk kembali pulang
Namun sering terlupa setiap kali pagi datang menjelang.
Aku adalah rangkaian kalimat doa yang belum waktunya di kabulkan.
Sapuan kuas dari lukisan mimpi yang belum jadi kenyataan
Aku lah rahasia dari hati yang berdoa dalam diam
Akhir pencarian penuh sabar sebagai tulang rusuk yang hilang dari tubuh seseorang.
Aku adalah secangkir sore penuh kenangan
Puisi di ujung pena yang belum sempat tertuang di secarik kertas
Pelangi dari jalinan sepi penantian, usai riuhnya opera masa remaja
Langit cerah usai hujan yang turun sepanjang malam.
"Maaf, kertas itu.." kataku pada sosok laki-laki yang duduk di meja kafe yang kutinggalkan.
"Milikmu?" tanyanya seraya membalikkan badan.
Deg! Aku terkesiap. Tubuhku terasa membeku. Jantungku berdebar-debar. Tiba-tiba saja deburan ombak di tepi pantai memenuhi seluruh rongga dadaku.
Sore datang seperti biasa. Aku berpikir bahwa menikmati secangkir kopi di kafe akan sangat membahagiakan jiwaku. Apalagi hujan hanya meninggalkan sedikit gerimis dan belaian angin. Lalu, laki-laki ini. Apakah takdir sedang di perintah Tuhan untuk bermain denganku?
"Apa kabar? Lama tak jumpa. Duduklah, temani aku sebentar." katanya, menghentikan senandung kebisuan di antara kami. Aku menelan ludah.
"Masih tentang kopi?" dia tersenyum saat menyorongkan kertas tadi padaku, "Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Selalu. Terima kasih sudah menanyakannya." jawabku seraya meraih kertas tadi.
Dia menghela napas. Hatiku seketika terasa menciut. Takut. Lalu rasa kecut, tetiba muncul di dalam mulutku. Aku hampir mati kehabisan udara karena menunggu kata-kata.
"Puisi itu.. apakah kau tidak berniat berbagi sore dengan seseorang?" ujarnya.
Aku menunduk. Entah mengapa mataku terpaku pada jari-jari tangan laki-laki di hadapanku, seolah mencari sesuatu yang seharusnya ada disana selama beberapa waktu. Lalu debar hatiku seakan pecah saat menyadari bahwa yang kucari TIDAK ADA DISANA!
Aku menatapnya. Entah nyali milik siapa yang datang dan dari mana asalnya hingga aku berani menatap langsung kedua matanya yang hitam dan teduh. Binarnya selalu hampir membuatku hilang sadar.
"Aku percaya, bahwa suatu saat takdir akan membawaku bertemu seseorang yang mau berbagi sore dan secangkir kopi denganku." kataku.
Laki-laki di hadapanku tersenyum. Pandangannya lembut namun menyelipkan perasaan aneh yang menggelitik jantungku. Aku tak tahu mengapa. Ah, aku tak tahan lagi.
"Aku harus pergi.. Maaf.." aku berdiri, bersiap meninggalkannya. Mataku tiba-tiba terasa panas saat aku membalikkan badan. Sesuatu seperti menyayat hatiku di setiap aku mengayunkan langkah, rasanya perih.
"Aku hanya punya sisa dua iris brownies.." ku hentikan langkahku saat mendengar suaranya.
Ku balikan badan dan menatapnya lagi. Dia disana. Berdiri sambil menatapku. Aku terlalu kaget dan bingung untuk dapat menjawab ucapannya.
".. Jika kau masih bersedia tinggal dan berbagi sore dan secangkir kopi. Denganku."
Glek. Tiba-tiba saja kakiku terasa lemas saat mendengar kata-katanya. Mataku perih. Seketika saja bulir air mataku telah mengalir bak anak sungai. Aku tak percaya mendengar kalimat itu darinya.
Di luar, gerimis kembali turun. Meningkahi rasa canggung ku akan tatapan matanya dan kata-kata yang kudengar barusan. Senja turun perlahan saat aku tersenyum padanya di sela-sela tangisku. Pada akhirnya dia akan tahu, bahwa cangkir ku selalu penuh akan kenangan dan doa-doa tentangnya.
Berkali jatuh cinta pada kata-kata hingga menjadikan literasi sebagai bagian dari hidup. Sesekali menyendiri untuk melepas penat dengan menonton film, mendengarkan musik, dan menyesap secangkir kopi.