Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2016

Puisi : Aku

Oktober 27, 2016 2 Comments

Aku tengah membaca puisi
Tentang ombak yang bergulir di bawah kaki
Tentang gunung yang tak lagi terlihat tinggi
Tentang angin yang melabuhkan sampan ke tepi

Senin, 05 September 2016

Puisi: Memaafkan Kesempatan

September 05, 2016 0 Comments
Kita adalah sepasang pelukan yang berdiri di tepian
Terpisah masa lalu yang pergi tanpa mengucap salam
Kisah-kisah yang ingin diucapkan telah habis dimakan waktu
Membeku dan terlupa

Sabtu, 16 April 2016

Jika Aku, Kau

April 16, 2016 0 Comments
Aku berhias dalam balut wajah religius
Jubahku gemerisik disapa angin yang berhembus
Aku berada di jalan paling lurus
Menghadap Tuhan dengan hati paling tulus

Minggu, 03 April 2016

Kamis, 24 Desember 2015

Kau, Ibu

Desember 24, 2015 0 Comments
Kau adalah gemericik doa yang mengalirkan harapan
Embun di pucuk daun yang mengandung kebahagiaan
Desau kasih sayang yang menebarkan kehangatan

Assalamualaikum, Pak

Desember 24, 2015 0 Comments
Rasanya itu baru kemarin
Aku melihat wajah penuh senyum bercaping bambu berdiri di bawah siraman hujan menungguku
Tak peduli basah tak peduli dingin meski hanya berbalut kaos tipis dan celana pendek warna kelabu

Minggu, 19 Juli 2015

Rindu Aku Rindu

Juli 19, 2015 0 Comments
Kala mataku terpejam, senyum itu masih terbayang
Tatapan mata nan sendu, penuh sayang
Uluran tangan nan lembut, penuh kehangatan
Dan kata-kata terakhir, meski diiringi keterbataan
Duhai ayah.. Duhai ibu..
Sungguh rindu aku rindu
Berada dalam dekapmu
Sungguh rindu aku rindu...

Kamis, 14 Mei 2015

Kamu: Sang Cinta Sejati

Mei 14, 2015 0 Comments
Semalam aku hampir saja tak bisa tidur. Karena sepertinya ingatanku tentangmu mulai mengabur. Merajut kembali kisah tentang mu membuatku terpaksa harus bekerja lembur.

Untunglah pagi segera datang. Menyelamatkan nyawaku yang hampir meregang. Menahan rindu setiap kali malam mulai menjelang.

Selasa, 05 Mei 2015

Dua Sisi Cinta?

Mei 05, 2015 2 Comments
Cinta kadang seperti api yang hangat, namun jika tak kuat menanggungnya kita bisa terbakar habis karenanya.

Cinta seperti air yang menyejukkan, namun jika tak kuat menanggungnya kita mungkin mati tenggelam karenanya.

Minggu, 26 April 2015

Tentang Aku yang MerinduMu

April 26, 2015 7 Comments
Diantara temaram dan suara nafas yang tertahan, aku merenung dalam kesendirian
Kepalaku penuh dengan pertanyaan tentang arah dan tujuan
Kemana langkah ini akan kubawa berjalan?
Sedang aku masih tersesat di tanah lapang tanpa tuan

Sabtu, 25 April 2015

Karena Allah

April 25, 2015 0 Comments
Kamu datang kepada hati yang kosong karena Allah
Mana ku tau kamu akan mengetuk pintu hati itu dan menyapa ke kediamanku?
Kamu pergi pun karena Allah
Mana ku tau kamu bawa sebelah hatiku untuk kamu simpan di dalam hatimu?

Kamis, 23 April 2015

Siapalah Aku?

April 23, 2015 3 Comments
Siapa lah aku?
Rangkaian kalimatku tak pernah menjadi sajak
Ujung penaku menari dengan terdesak
Dan warna tinta yang muncul sering tersendat

Mengapa bunga?

April 23, 2015 0 Comments
Mengapa di sebut bunga?
Apakah karena berwarna mempesona?
Ataukah karena harumnya indah?
Atau karena ia menjadi lambang rasa?

Jumat, 10 April 2015

Dalam Perenungan

April 10, 2015 4 Comments
Dalam irisan tart berwarna pekat
Bernama Devil's Food Cake serupa laknat
Adalah kopi negeri Indian sebagai sejawat
Di sebuah cafe dengan lagu yang terus menghentak

Sabtu, 04 April 2015

Minggu, 22 Maret 2015

Sebuah Jawaban

Maret 22, 2015 2 Comments
Sungguh kalimat itu terasa salah
Celotehku tentang kata berima cinta
Sebagai wujud rindu pada sang Hamba
Membuatku kacau dan hampir gila

Selasa, 17 September 2013

Sore, Secangkir Kopi dan Dua Iris Brownies

September 17, 2013 0 Comments



Aku adalah serpih kenangan yang tertinggal di tepi jalan
Yang berdoa di kala malam, berharap di jemput tuk kembali pulang
Namun sering terlupa setiap kali pagi datang menjelang.

Aku adalah rangkaian kalimat doa yang belum waktunya di kabulkan.
Sapuan kuas dari lukisan mimpi yang belum jadi kenyataan
Aku lah rahasia dari hati yang berdoa dalam diam
Akhir pencarian penuh sabar sebagai tulang rusuk yang hilang dari tubuh seseorang.

Aku adalah secangkir sore penuh kenangan
Puisi di ujung pena yang belum sempat tertuang di secarik kertas
Pelangi dari jalinan sepi penantian, usai riuhnya opera masa remaja
Langit cerah usai hujan yang turun sepanjang malam.



"Maaf, kertas itu.." kataku pada sosok laki-laki yang duduk di meja kafe yang kutinggalkan.

"Milikmu?" tanyanya seraya membalikkan badan.

Deg! Aku terkesiap. Tubuhku terasa membeku. Jantungku berdebar-debar. Tiba-tiba saja deburan ombak di tepi pantai memenuhi seluruh rongga dadaku.

Sore datang seperti biasa. Aku berpikir bahwa menikmati secangkir kopi di kafe akan sangat membahagiakan jiwaku. Apalagi hujan hanya meninggalkan sedikit gerimis dan belaian angin. Lalu, laki-laki ini. Apakah takdir sedang di perintah Tuhan untuk bermain denganku?

"Apa kabar? Lama tak jumpa. Duduklah, temani aku sebentar." katanya, menghentikan senandung kebisuan di antara kami. Aku menelan ludah.

"Masih tentang kopi?" dia tersenyum saat menyorongkan kertas tadi padaku, "Bagaimana kabarmu?"

"Baik. Selalu. Terima kasih sudah menanyakannya." jawabku seraya meraih kertas tadi.

Dia menghela napas. Hatiku seketika terasa menciut. Takut. Lalu rasa kecut, tetiba muncul di dalam mulutku. Aku hampir mati kehabisan udara karena menunggu kata-kata.

"Puisi itu.. apakah kau tidak berniat berbagi sore dengan seseorang?" ujarnya.

Aku menunduk. Entah mengapa mataku terpaku pada jari-jari tangan laki-laki di hadapanku, seolah mencari sesuatu yang seharusnya ada disana selama beberapa waktu. Lalu debar hatiku seakan pecah saat menyadari bahwa yang kucari TIDAK ADA DISANA!

Aku menatapnya. Entah nyali milik siapa yang datang dan dari mana asalnya hingga aku berani menatap langsung kedua matanya yang hitam dan teduh. Binarnya selalu hampir membuatku hilang sadar.

"Aku percaya, bahwa suatu saat takdir akan membawaku bertemu seseorang yang mau berbagi sore dan secangkir kopi denganku." kataku.

Laki-laki di hadapanku tersenyum. Pandangannya lembut namun menyelipkan perasaan aneh yang menggelitik jantungku. Aku tak tahu mengapa. Ah, aku tak tahan lagi.

"Aku harus pergi.. Maaf.." aku berdiri, bersiap meninggalkannya. Mataku tiba-tiba terasa panas saat aku membalikkan badan. Sesuatu seperti menyayat hatiku di setiap aku mengayunkan langkah, rasanya perih.

"Aku hanya punya sisa dua iris brownies.." ku hentikan langkahku saat mendengar suaranya.

Ku balikan badan dan menatapnya lagi. Dia disana. Berdiri sambil menatapku. Aku terlalu kaget dan bingung untuk dapat menjawab ucapannya.

".. Jika kau masih bersedia tinggal dan berbagi sore dan secangkir kopi. Denganku."

Glek. Tiba-tiba saja kakiku terasa lemas saat mendengar kata-katanya. Mataku perih. Seketika saja bulir air mataku telah mengalir bak anak sungai. Aku tak percaya mendengar kalimat itu darinya.

Di luar, gerimis kembali turun. Meningkahi rasa canggung ku akan tatapan matanya dan kata-kata yang kudengar barusan. Senja turun perlahan saat aku tersenyum padanya di sela-sela tangisku. Pada akhirnya dia akan tahu, bahwa cangkir ku selalu penuh akan kenangan dan doa-doa tentangnya.

Tuhan, dia sudah datang...


Download File Ini Aku