Setelah lewat satu tahun sejak hadir di Kota Depok, akhirnya saya berkesempatan untuk menikmati film di salah satu jaringan bioskop yang menurut saya terbilang berani beda dibanding pendahulu sekaligus rivalnya.
Perjalanan liburan saya di Kota Tua Jakarta berlanjut pada hari berikutnya, Sabtu, 24 Desember 2016. Tujuan selanjutnya adalah Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) dan Museum Wayang.
Awalnya ada beberapa anggota FLP Bogor yang berniat ikut pada perjalanan saya kali ini. Namun karena ada agenda dadakan yang tidak bisa ditinggalkan, niat mereka pun akhirnya dibatalkan. Kecuali Mba Rima, salah satu anggota Pramuda FLP Bogor angkatan sembilan. Saya juga mengajak kakak perempuan dan Affan, putranya yang masih berusia empat tahun.
Di penghujung tahun 2016, saya kembali mendapatkan kesempatan liburan panjang yang dimulai tertanggal 23 Desember 2016 sampai 02 Januari 2017. Hanya berdiam diri di rumah tentu bukan sebuah pilihan yang menyenangkan, bukan? Jadi saya pun mulai menyusun agenda liburan. Yeiy!!
Hari pertama libur, saya memutuskan untuk memutuskan mengunjungi daerah wisata Kota Tua. Tujuannya tentu saja museum. Kebetulan ada beberapa museum yang sejak lama memang ingin saya datangi.
Setelah vakum selama kurang lebih satu tahun, Kongkow Ziarah Wali (KZW) kembali melakukan perjalanan menyusur jejak-jejak para ulama terdahulu. Dengan dikomandani Ahmad Rivai, rombongan KZW bertolak menuju Makam Abuya Dimyati, Pandeglang, Banten pada Sabtu (3/9/2016).
Namun informasi mengenai rencana ziarah yang mendadak, membuat tidak banyak orang yang bisa mengikuti perjalanan ini. Rombongan hanya berjumlah empat orang, menurut penuturan Riva'i selaku komandan dalam pembicaraan melalui aplikasi WhatsApp pada Jumat malam (3/9/16).
Apa sih yang terlintas dalam benak kawana dan kawani saat mendengar kata: "SENIN"? Beberapa orang mungkin ada yang bergidik ngeri. Lalu beberapa yang lain?
Pagi ini saya bangun dengan perasaan bahagia yang sempurna. Kenapa? Saya sedang berusaha menggeser paradigma Monster Day yang selama ini meracuni semangat awal pagi saya.
Tepat pukul sepuluh pagi waktu Indonesia bagian Depok, saya keluar rumah. Niatnya asli ngebolang. Wisata kuliner lah istilahnya. Jadi setelah sarapan pagi ala orang iseng, saya pamit pada pintu rumah seraya berucap bismillah.
Awalnya saya mau mampir ke Kopi Kimung. Tak disangka, kedai yang hampir setiap hari saya lewati sama sekali gak keliatan dalam pandangan. Aneh. Jadi saya pun putar haluan. Tak ada Kopi Kimung, Kopi Bar pun jadi!
Kedatangan saya di sambut oleh dua lengkung senyum dan wajah ramah barista dan pemilik kafe. Beruntung bagi saya yang sempat berbincang sebentar dengan sang pemilik kafe, seorang wanita cantik di usia pertengahan tiga puluh. Kopi Bar baru buka sekitar dua bulan dan lebih mengedepankan cita rasa kopi nusantara dengan penyajian ala internasional. Penasaran dengan rasa kopi dan penyajian ala Vietnam, saya pun memesan Ice Vietnam KopiBar. Sayang, mereka belum menyiapkan menu pendamping. Tapi saya berkesempatan mencicipi muffin lemon. Gratis!!
Ice Vietnam KopiBar menyajikan kopi Sumatra dengan Vietnam drip. Jadi pemesan harus menunggu sampai tetesan kopi berhenti dari sebuah wadah press sebelum dapat menikmati kopinya. Aduk tetesan kopi dan susu kental manis yang telah menunggu di dasar gelas, Ice Vietnam Kopi Bar siap disajikan. Sambil membaca Surat Wasiat karya John Grisham, saya menghabiskan waktu satu jam tanpa terasa. Walau ada fasilitas wi-fi, saya tak sempat mencobanya. Karena saya harus meluncur ke tempat kedua. Ini Teh Kopi!
Saya memilih angkutan bus Depok-Lebak Bulus lalu nyambung Busway ke Pos Pengumben untuk mencapai Kedai Ini Teh Kopi, kedai milik Yasa Pratama Singgih, salah satu dari 10 pengusaha muda sukses versi YukBisnis.com.
Di kedai, saya dan teman adalah 2-2nya pengunjung yang datang. Gak membuang waktu lama, kami pun memesan menu andalan di kedai Ini Teh Kopi, Ini Kopi Duren (panas dan dingin), Gensot Koplit dan Mie Kangkung.
Kopi Duren menyajikan kopi robusta dengan campuran daging duren. Sedang Gensot adalah singkong kukus dengan taburan kelapa muda parut, keju parut, misis cokelat dan gula pasir. Lalu Mie Kangkung sendiri terdiri atas mie kari dengan campuran kangkung, wortel potong, daging sapi cincang dan telur ayam. Ngobrol ngalor ngidul, gak terasa kami pun memesan makanan lagi. Kentang goreng dan Avocado Milkshake. Rakus apa laper? Hahaha. Hari sudah semakin sore, akhirnya kami memutuskan pulang.
Dalam perjalanan pulang, mata kami terpaku pada sebuah warung duren. Wow! Tetiba langkah kami pun berbelok ke warung itu. Udah kenyang sih, tapi demi duren, kalo gak sanggup? Ya, shangupin! *terThe_Comment.
Udah cukup kayaknya petualangan saya dengan tema kafein. Setelah cuci tangan dan membayar duren, kami pun pulang.
Ini adalah jalan-jalan perdana saya saat lebaran dengan keluarga, biasanya kalo jalan-jala sama temen-temen mulu. Walau gak semua anggota keluarga ikut karena ada yang masih pulkam ke kampung pasangannya. salah satu keponakan saya juga absen karena mau jalan sama temen-temennya, maklum lah ABG... Tujuan wisata gak jauh-jauh, cuma ke Ragunan aja nengokin sodara tua, tapi yang penting kebersamaannya toh? Dari rumah cuma sekali naik angkot dan gak terlalu jauh juga. Berangkat jam sembilan lewat, mampir di Alfa beli minum dan makanan ringan.
Sampai di Ragunan, kita antri beli tiket (udah jelas lah ya...). Tiket masuk belum naik dari tahun kemarin, untuk orang dewasa masih Rp 4.000, sedang untuk anak-anak masih Rp 3.000, plus asuransi Rp 500/orang. Setelah masuk, kita langsung duduk-duduk aja, makan-makan, foto-foto, jompo banget kayaknya yah baru datang udah ngaso?
Tujuan kedua, kita menuju Pusat Primata Schmutzer. Tiket masuknya Rp 5000, tapi kebetulan hari itu kita gak usah bayar karena ternyata ketemu temen sekolah salah satu kakak saya. Lumayan, hemat Rp 35.000. Sayangnya, ada beberapa tempat yang ditutup, seperti Dunia Orang Utan dan Rumah Gorila. Padahal kita mau nonton filmya, yah apa daya pintu terkunci...
Secara gak sengaja suatu hari saya melihat sebuah iklan kecap yang beda dari biasanya. Biasanya kan iklan kecap itu… “Rasa gak pernah bohong..”, “Gak bisa makan tanpa kecap ...” tapi iklan yang ini beda, Kecap Bango akan mengadakan Festival Jajanan Bango! Satu lokasi terdekat dari rumah adalah Depok yang akan digelar pada tanggal 18 Juni. Langsung kontak kakak yang kebetulan berdomisili di Depok, janjian jam 11 harus udah ada di rumahnya. Oce lah, apa hari yang dimaksud saya pun meluncur kesana.
Festival diadakan di Lapangan Merpati yang cukup luas untuk menampung sekitar 50 stand makanan khas dari banyak daerah, diantaranya Tahu Campur Cak Kahar khas Surabaya, Ayam Bakar Mas Mono, Sate Kudus Kauman, Sate Pejompongan, Mie Aceh Jali-Jali, Tahu Getjrot, Es Pocong, Bakso Malang AA, wah pokoknya banyak lah. Ada pula stan-stan non makanan misalnya majalah, Koran dan stan yang menjual produk-produk Unilever.
Untuk menikmati ragam jajanan khas nusantara, terlebih dahulu kita harus membeli semacam tiket seharga Rp 12.000 untuk nantinya ditukarkan dengan seporsi makanan. Jadi harga semua makanan dipukul rata pada harga Rp 12.000. terjangkaulah.
Sayang cuaca cukup panas untuk bisa berkeliling menikmati stand-stand makanan. Saya lebih memilih duduk di bawah tenda dan menunggu saudara lain yang sibuk menjelajah. Selama menunggu saya menghabiskan semangkuk Soto Kudus Kauman dan 3 gelas besar es teh dan 1 es krim. Setelah kenyang dan lelah, kami memutuskan untuk pulang. Pukul 13.30 kami sudah berada dalam keteduhan Kota Depok alias rumah. Sampai jumpa lagi di episode Bango lainnya!
Di pintu masuk Festival Jajanan Bango (Mba Fe, Princess dan Zahra).
Kemarin, tepatnya tanggal 18 Mei 2011, saya dan 6 orang teman lainya mengunjungi Festival Museum Day di Kota Tua, Jakarta Pusat. Perjalanan kami berenam dimulai dengan menumpang kereta ekonomi Jakarta-Bogor dari St.Tanjung Barat, awalnya kami berniat menumpang Kereta AC ekonomi tapi kemudian rencana berubah. Kami berangkat pukul 09.00 dan tiba di Stasiun Kota pukul 10.05, sayangnya hujan deras turun saat kami menunggu seorang teman kami yang masih ada urusan. Selama satu jam kami menunggu di St. Kota, ahhhh…
Begitu hujan sudah agak reda, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju tempat acara, Kota Tua. Suasana disana cukup ramai, ada empat puluh tiga stand museum yang dipamerkan, diantaranya Museum Nasional (Monas), Museum Polri, Museum Trisakti, Museum Perangko Indonesia, Gedung Joeang ’45, Museum Arsip Nasional, Museum Penerangan, Gedung Muhammad Hoesni Thamrin, Museum Bahari, Museum Wayang dan masih banyak lagi.
Stand-stand berjajar membentuk huruf “U” dan di tengahnya terdapat sebuah panggung berlatar Museum Fatahillah. Di panggung inilah beberapa kesenian tradisional Jakarta ditampilkan, misalnya Lenong Betawi, Tandjidor dan Marawis. Selain menampilkan kesenian Jakarta, pihak penyelenggara juga membahas sedikit mengenai museum, misalnya pentingnya mengunjungi museum. Ada juga kuis tentang museum, beruntung saya dapat menjawab salah satu pertanyaan dan memenangkan hadiah berupa dua buah voucher minuman dari 7 Eleven hahaha… (lumayaaaaannnn….).
Bank Indonesia juga memberikan penyuluhan tentang cara mengenali uang asli dan cirri-ciri khas yang hanya terdapat pada uang asli (dari sini kita jadi lebih yakin kalau uang yang kita miliki asli atau palsu), juga penyuluhan tentang dua versi 3D (baca: 3 De). Versi 3D yang pertama yaitu Dilihat, Diraba, Diterawang. Sedang 3D versi kedua adalah Didapat, Disayang, Disimpan (bukannya harusnya Dibelanjakan, ya? Heheheheh….).
Bagai musafir yang haus akan air, kami bertujuh menjelajah dari satu stand ke stand yang lain, meninggalkan jejak dengan menulis nama, mendapatkan hadiah dari kuis yang ada berupa mug dan tempat tissu atau hanya sebuah souvenir berupa pin cantik dan pulpen. Tak lupa kami berpose untuk mengabadikan keberadaan kami disana.
Yang lucu dari acara jalan-jalan kemarin adalah, kami menjadi model dalam lomba foto sebanyak dua kali! Pertama kami menjadi orang-orang narsis yang sedang foto-foto dan yang kedua kami menjadi pembeli koran dari seorang loper yang mengendarai sepeda ontel (semoga mereka tidak menyesal telah menjadikan kami model fotonya hehehehehe….).
Cukup. pukul dua siang kami akhirnya memutuskan untuk pulang walaupun acara masih berlangsung. Kami menunggu kereta selama setengah jam dengan duduk-duduk di peron jalur sebelas. Tanpa komando kami semua memandang peron jalur sepuluh dimana seorang perempuan berusia awal dua puluhan sedang menelepon sambil tertawa-tawa. Kami hanya berkomentar sekedarnya saat melihatnya, “Itu dia apa gak malu ya nelpon kenceng gitu, PD banget ya?” , begitu kira-kira ucapan kami. Namun saat perempuan itu menengok ke arah yang lain kami sadar bahwa dia tidak memegang handphne, hanya bergaya seperti memengang handphone.
Saling pandang, awalnya kami bingung, lalu tanpa komando lagi kami bertujuh tertawa tanpa tedeng aling-aling. Ternyata orang gila! Haaaaa...
Tak ada satupun dari kami yang menyangka bahwa sedari tadi kami sedang memperhatikan orang gila. Hiburan yang sangat menyenangkan. Saya jadi ingat sebuah pepatah “Yang tertawa paling keras adalah yang tetawa paling akhir” (kebalik gak ya?).
Ternyata kereta yang kami tunggu parkir di peron sepuluh, maka kami pun berlari menuju peron sepuluh, dan disinilah perpisahan kami. Saya terpisah dengan teman-teman yang lain, namun kami semua selamat sampai di rumah masing-masing. Alhamdulillah...
Kalo gak punya acara minggu ini, boleh loh tengok-tengok acara yang satu ini. Sebuah acara yang diselenggarakan Oleh Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta, diselenggarakan pada tanggal 18 Mei 2011, bertepatan dengan Hari Museum Sedunia. Acara ini akan di meriahkan oleh :
- Pameran 43 Museum se Jakarta
- Bazar-bazar makanan tradisional DKI Jakarta, dan
- Berbagai Lomba:
1. Lomba Foto "Narsis"
2. Lomba Ngerumpiin Museum
3. Lomba Jinggle Museum Repdut
4. Lomba "Amazing Museum Race"
5. Lomba Rally Foto
6. Lomba Sepeda Ontel (muatan terbanyak)
- Berbagai Atraksi Kesenian Tradisional Jakarta mulai dari marawis, tandjidor, aneka tarian betawi.
- Talkshow dan Dialog Interaktif dengan pakar Museum
Untuk Registrasi Peserta Lomba dapat dikirimkan ke : nama lengkap (spasi) umur (spasi) pekerjaan (spasi) no.hp kirim ke : 0856-9980-333
HADIAH UNTUK LOMBA BERUPA:
- UANG TUNAI
- SEPEDA
- VOUCHER 7 ELEVEN
- ANEKA MINUMAN DARI COCA-COLA
Acara ini untuk umum,,,,,
"" Ayooooooooooooooo........... Ke Muuuuuuuuuuseeeeeeeeeummm..."
SATU LAGI, ADA PENANDATANGANAN SPANDUK SEPANJANG 200M "GERAKAN NASIONAL CINTA MUSEUM".
Berkali jatuh cinta pada kata-kata hingga menjadikan literasi sebagai bagian dari hidup. Sesekali menyendiri untuk melepas penat dengan menonton film, mendengarkan musik, dan menyesap secangkir kopi.