Jumat, 03 Februari 2012

Siluet Malaikat

Gerimis masih membayangi Jakarta sejak pagi tadi. Jalan-jalan basah dan becek. Aku berlari meninggalkan Statiun Duren  Kalibata, langkah kakiku menimbulkan bunyi kecipak tak karuan saat menginjak genangan-genangan air. Napasku memburu, keringat meluncur turun dari keningku dan membasahi leher, menimbulkan efek lengket bergaris-garis.

Aku berteduh disebuah gapura. Kulirik jam tanganku, sudah lewat setengah jam sejak acara dimulai. Kuatur napas dan merapikan pakaianku. Kuambil ponsel dan melihatnya, dua pesan masuk bernada sama, menanyakan dimana keberadaanku. Kukirim pesan balasan lalu menyimpan ponselku kembali.

Srett!

Ada rasa yang aneh meluncur tiba-tiba turun ke hatiku. Entah apa. Aku tak merasa yakin. Kutengok kiri dan kanan, mencari sumber rasaku. Deg. Tubuhku seakan terpaku dan tak mampu bergerak. Ya Tuhan… aku melihatnya, dia disana! Berjalan pelan dan santai, seakan tak ada gerimis hujan. Langkahnya mantap, badannya tegak. Dan dia tidak melihatku yang tersembunyi di balik tiang. 

Ya Tuhan, mengapa aku selalu saja lemah saat bertemu dengannya? Mengapa sosoknya menjadi terlalu sempurna bagiku? Jantungku selalu saja berpacu lebih cepat saat melihatnya. Akal dan nyaliku seakan lari entah kemana, meninggalkan aku sendiri menghadapi pesona itu.

Sering kali aku merasa hampir pingsan saat menghadapinya. Melihatnya adalah anugrah terbaik bagiku sedang mendengar suaranya adalah sebuah keajaiban. Ya Tuhan...! Andai saja aku dapat menggapainya, berada lebih dekat beberapa centi darinya.

Oh, tidak! Dia pergi! Dia pergi! Melenggang jauh meninggalkanku yang tak terlihat, tersembunyi di balik tiang ini. Tapi apakah dia…?

Kakiku tiba-tiba bergerak sendiri melangkah menembus gerimis yang mulai deras. Cepat.. cepat.. langkahku semakin cepat. Setengah berlari aku mengejar dia yang menghilang di tikungan. Aku kehilangan jejaknya setelah dia berbelok, buru-buru aku menyusul langkahnya. Sepintas kulihat punggungnya menghilang di ujung tangga dan aku pun menuju tempat yang sama.

Dia disana, berdiri di tengah kebisuan. Wajahnya tenang dan serius dengan tangan terlipat di dada. Rambutnya sedikit basah membuat wajahnya terlihat segar dan gagah. Jas hitamnya basah oleh gerimis. Siluet tubuh itu pernah sesekali tergambar. Kuabaikan suara-suara yang menggema di lubang telingaku dan menikmati siluet itu. Bagaimana mungkin mereka melewatkan salah satu keajaiban Tuhan.

Srett.

Dia berbalik!

Ya Tuhan.. sembunyikan aku! Sembunyikan aku. Tanpa sadar aku bergeser, berlindung di balik salah satu penghalang. Menikmati siluet itu sudah cukup untukku, tak perlu dia menyadari akan hadirku. Hatiku berdegup, rasanya seperti ada yang meninju tulang dadaku. Berdentam-dentam bak gebukan drum seorang pemain band. Tubuhku menggetar kakiku seakan goyah. Jadi aku berbalik, berlari lalu menghilang.

Aku mengutuki diriku sendiri yang terlalu lemah bahkan untuk sekedar menatap wajahnya, menatap matanya. Andai saja teknologi transfer data seperti bluetooth dapat membantuku di saat-saat seperti ini. Ahh... sudahlah. Nyatanya aku disini, melangkah sendirian.

Drrt... Drrt... Kesadaranku kembali saat ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk yang kemudian membawaku kembali pada kenyataan.

Kau dimana? Singkat saja.

Maaf aku tak datang. Jawabku untuknya. Andai dia tahu, siluet malaikat itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar