Jumat, 03 Februari 2012

Cinta Terakhir Di Senja Pantai

“Sudah dengar tentangnya?” sahabatku bertanya saat aku duduk di hadapannya.

Aku menyeruput minumanku yang telah dipesannya lebih dulu, lalu memandang sahabatku dengan pandangan bertanya.

“Jadi kau benar-benar tidak tahu? Dia akan menikah! Tahun ini!” ujar sahabatku menggebu-gebu.

“Terus?” aku memandangnya dengan tatapan jahil sambil tersenyum.

“Ya Tuhan.. bagaimana mungkin kau bisa setidak peduli itu?! Sadarlah kawan, kau akan kehilangan dia selamanya. Selamanya!!” lebih menekankan pada kata selamanya.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanyaku masih tidak perduli.

“Sadarkan dia bahwa kau lah cinta sejatinya! Bawa dia kembali pada kenyataan bahwa kau lah satu-satunya wanita yang bisa menerima dia apa adanya. Mencintainya dengan sepenuh hatimu. Katakan padanya…”

“Cukup!” Aku mengangkat telapak tanganku, “.. kenapa tidak kita biarkan saja dia menentukan hidupnya? Cintanya, itu haknya. “ aku tersenyum pada perempuan dihadapanku.

“Tapi..”

“Sudahlah, kumohon.” Aku menggeleng padanya. Dan kami pun diam.

                                                         -- * * * --

Langit senja Jakarta di pinggir pantai. Memandang lukisan Illahi, mengaggumi kebesaran Sang Pencipta warna. Rambutku melayang-layang dimainkan angin laut. Kubentangkan lengan, kupejamkan mata dan kupenuhi paru-paru dengan udara senja pantai Jakarta.

“Tidakkah kau menginginkan kehadiran seseorang di sampingmu?” sebuah suara menyadarkanku. Kubuka mata, kuturunkan lenganku dan menoleh ke arah suara. Seorang laki-laki dengan badan tegap dan tinggi yang melebihi aku, berdiri persis di sisiku.

“Tolong jangan salah paham, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada pantai ini, suara deburan ombaknya, hempasan angin dan suaranya yang ribut dan lukisan langit merah di ujung sana..”

Aku berbalik, berniat meninggalkannya. Aku tak ingin mendengar apapun darinya apalagi sekarang.

“Katakan padaku.. pernahkah kau mencintaiku?” pertanyaannya menghentikan langkahku. Aku berbalik dan memandangnya.

“Apa yang kau harapkan dari pertanyaanmu? Masih perlukah aku menjawabnya?”

“Jawab saja pertanyaanku. Kumohon.” Matanya seakan mengiba, menunggu jawaban dari pertanyaannya.

Aku menghela napas panjang. Memandang dia yang pernah memberi arti dalam kesehariannku. Bagaimana pun tak kutampik itu. Dia memang pernah menjadi yang teristimewa, namun akhirnya bagiku semua itu tak cukup nyata. Kehadirannya tak lagi menjadi sesuatu yang berharga. Aku merasa bahagia melebihi saat aku bersamanya dan aku yakin bisa bertahan tanpa harus memilikinya.

“Kau tak cukup nyata untuk menerima cinta..” kataku. Dahinya berkerut, tak yakin akan apa yang didengarnya, “.. Kau tak pernah berani melangkah. Tidakkah kau sadar bahwa ada yang menunggumu?” aku diam menunggu reaksinya.

“Maksudmu?” suaranya pelan seraya bisikan. “Ku mohon, jawab aku..” suaranya bergetar, sebuah bulir air mata jatuh dan meluncur di wajahnya. Aku masih diam memandangnya. Ya Tuhan, betapa aku pernah amat mencintai wajah ini.

“Cukup waktu bagiku untuk bersamamu. Aku tak bisa lagi menunggu hilangnya takut dan ragu agar kau mau melangkah maju. Memperjuangkan cintamu untuk bersamaku. Perbedaan kita mungkin terlalu nyata. Cintailah pilihanmu.”

Aku kembali melangkah. Meninggalkan dia yang memandangku berjalan menjauh. Suara deburan ombak dan ributnya angin masih memenuhi telingaku. Ah… aku akan merindukan pantai ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar