"Nak.. jika suatu saat aku pergi, ingatlah bahwa Dia akan selalu ada bersamamu."
Aku duduk dengan gelisah di kursi kerjaku. Kulirik lagi jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Hatiku benar-benar tak karuan. Hari sudah beranjak sore dan aku masih terjebak disini.
Ini hari besar dan seharusnya aku meminta ijin pada atasanku. Seharusnya. Tapi aku hanyalah pegawai biasa jadi disini lah aku. Memeluk kegelisahanku sendiri. Oh Tuhan..
Tiba-tiba pintu ruanganku terkuak. Seorang pria tinggi dan berkulit hitam masuk ke dalam ruangan dan duduk. Aku memalingkan wajahku, kembali mematut pandanganku pada monitor di meja kerja.
"Bukankah seharusnya kau bersiap-siap untuk pulang?" ujarnya tiba-tiba. Aku menoleh padanya.
"Ini hari yang besar kan?" ujarnya lagi. Aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.." pria dihadapanku meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku, "Pulanglah, temui dia.."
Mataku membelalak tak percaya mendengar kalimat itu dari pria di hadapanku. Tapi melihatnya tersenyum membuatku yakin bahwa kami memiliki pikiran yang sama. Jadi aku segera melompat dari kursi.
"Pak, sungguh aku akan mencintaimu karena hal ini.. Terima kasih.. Terima kasih.." ujarku seraya menyambar tas ransel yang tersampir di dinding.
Aku hampir berlari karena bahagia. Aku harus bergerak cepat. Dia tidak boleh menunggu terlalu lama.
***** ***** ***** *****
Aku baru saja sampai. Ku larikan pandanganku berkeliling tempat ini. Dia belum datang. Biarlah, ku tunggu saja dia disini seperti biasa.
Hari telah beranjak sore namun belum kulihat tanda-tanda kehadirannya. Berkali-kali ku tengok pintu masuk, tapi dia belum juga muncul. Jujur saja aku khawatir. Ini memang tak seperti biasanya tapi aku yakin dia akan datang.
Aku kembali berdoa untuk menenangkan hatiku yang gelisah. Bertahan untuk tetap berada disini rasanya sungguh meresahkan. Aku hanya sedang mencoba untuk mempercayai sebuah harapan. Dan semoga keyakinanku ini benar.
Ku amati lagi penampilanku untuk yang terakhir kali. Aku hanya ingin memastikan kesempurnaan penampilan ku dihadapannya. Ahh, aku sungguh tidak sabar.
***** ***** ***** *****
Aku melompat dari bus yang aku tumpangi lalu berlari secepat yang aku bisa. Senja telah melambai di ujung mega. Ya Tuhan, kumohon tolong beri aku waktu sebentar lagi..
Dia disana!
Seruku di dalam hati saat melihatnya disana. Dia selalu ada disana kapan pun aku datang berkunjung.
"Nak, kau datang.."
"Maaf Pak, aku terlambat." ujarku diantara napas yang terengah-engah.
Aku tersenyum memandangnya. Rindu yang selama ini kupendam tumpah bersama air mata yang tanpa terasa telah menganaksungai di wajahku.
"Pak.." suara ku tercekat di kerongkongan.
Aku tersungkur dan menangis. Sendi-sendi tulangku terasa lemas. Dadaku sesak. Rasanya hampir seperti ingin meledak. Oh Tuhan..
"Tolong jangan menangis, Nak.."
"Ya, Tuhan.. Tolong ampuni dia. Sayangi lah sebagaimana dia menyayangiku sewaktu ku kecil.."
Aku terisak di dalam doa. Sibuk menghamba, memohon ampunan padaNya.
Detik waktu terasa berlalu begitu cepat. Aku merasakan udara di sekitarku seketika saja turun beberapa derajat. Aku mendongak. Langitku hampir gelap. Senjaku tengah pelan merayap.
Aku menghela napas. Seakan melepaskan beban terakhir yang kubawa sejak tadi pagi.
"Pergilah, Nak. Kumohon jangan kau lupakan aku. Dan datanglah lagi saat kau sempat."
Berat rasanya untukku melangkah meninggalkan dia sendirian disana. Aku berjanji dalam hati untuk kembali mengunjunginya di lain hari.
"Pak, aku pulang. Assalamualaikum. "
Tempat ini tetap saja sepi seperti biasanya. Rintihan awan dalam wujud buliran hujan menyapa wajahku yang tak terlindungi. Ku percepat langkahku meninggalkan area pemakaman.
Aku duduk dengan gelisah di kursi kerjaku. Kulirik lagi jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Hatiku benar-benar tak karuan. Hari sudah beranjak sore dan aku masih terjebak disini.
Ini hari besar dan seharusnya aku meminta ijin pada atasanku. Seharusnya. Tapi aku hanyalah pegawai biasa jadi disini lah aku. Memeluk kegelisahanku sendiri. Oh Tuhan..
Tiba-tiba pintu ruanganku terkuak. Seorang pria tinggi dan berkulit hitam masuk ke dalam ruangan dan duduk. Aku memalingkan wajahku, kembali mematut pandanganku pada monitor di meja kerja.
"Bukankah seharusnya kau bersiap-siap untuk pulang?" ujarnya tiba-tiba. Aku menoleh padanya.
"Ini hari yang besar kan?" ujarnya lagi. Aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.." pria dihadapanku meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku, "Pulanglah, temui dia.."
Mataku membelalak tak percaya mendengar kalimat itu dari pria di hadapanku. Tapi melihatnya tersenyum membuatku yakin bahwa kami memiliki pikiran yang sama. Jadi aku segera melompat dari kursi.
"Pak, sungguh aku akan mencintaimu karena hal ini.. Terima kasih.. Terima kasih.." ujarku seraya menyambar tas ransel yang tersampir di dinding.
Aku hampir berlari karena bahagia. Aku harus bergerak cepat. Dia tidak boleh menunggu terlalu lama.
***** ***** ***** *****
Aku baru saja sampai. Ku larikan pandanganku berkeliling tempat ini. Dia belum datang. Biarlah, ku tunggu saja dia disini seperti biasa.
Hari telah beranjak sore namun belum kulihat tanda-tanda kehadirannya. Berkali-kali ku tengok pintu masuk, tapi dia belum juga muncul. Jujur saja aku khawatir. Ini memang tak seperti biasanya tapi aku yakin dia akan datang.
Aku kembali berdoa untuk menenangkan hatiku yang gelisah. Bertahan untuk tetap berada disini rasanya sungguh meresahkan. Aku hanya sedang mencoba untuk mempercayai sebuah harapan. Dan semoga keyakinanku ini benar.
Ku amati lagi penampilanku untuk yang terakhir kali. Aku hanya ingin memastikan kesempurnaan penampilan ku dihadapannya. Ahh, aku sungguh tidak sabar.
***** ***** ***** *****
Aku melompat dari bus yang aku tumpangi lalu berlari secepat yang aku bisa. Senja telah melambai di ujung mega. Ya Tuhan, kumohon tolong beri aku waktu sebentar lagi..
Dia disana!
Seruku di dalam hati saat melihatnya disana. Dia selalu ada disana kapan pun aku datang berkunjung.
"Nak, kau datang.."
"Maaf Pak, aku terlambat." ujarku diantara napas yang terengah-engah.
Aku tersenyum memandangnya. Rindu yang selama ini kupendam tumpah bersama air mata yang tanpa terasa telah menganaksungai di wajahku.
"Pak.." suara ku tercekat di kerongkongan.
Aku tersungkur dan menangis. Sendi-sendi tulangku terasa lemas. Dadaku sesak. Rasanya hampir seperti ingin meledak. Oh Tuhan..
"Tolong jangan menangis, Nak.."
"Ya, Tuhan.. Tolong ampuni dia. Sayangi lah sebagaimana dia menyayangiku sewaktu ku kecil.."
Aku terisak di dalam doa. Sibuk menghamba, memohon ampunan padaNya.
Detik waktu terasa berlalu begitu cepat. Aku merasakan udara di sekitarku seketika saja turun beberapa derajat. Aku mendongak. Langitku hampir gelap. Senjaku tengah pelan merayap.
Aku menghela napas. Seakan melepaskan beban terakhir yang kubawa sejak tadi pagi.
"Pergilah, Nak. Kumohon jangan kau lupakan aku. Dan datanglah lagi saat kau sempat."
Berat rasanya untukku melangkah meninggalkan dia sendirian disana. Aku berjanji dalam hati untuk kembali mengunjunginya di lain hari.
"Pak, aku pulang. Assalamualaikum. "
Tempat ini tetap saja sepi seperti biasanya. Rintihan awan dalam wujud buliran hujan menyapa wajahku yang tak terlindungi. Ku percepat langkahku meninggalkan area pemakaman.

janji yang ditepati :")
BalasHapusBenar..
Hapusah,, di pemakaman :(
BalasHapus