Rabu, 16 April 2014

Untukmu Kota Depok

Setelah tepar seharian dan hampir gak bisa move on dari tempat tidur, pagi ini akhirnya bisa kembali beraktifitas seperti semula. Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur.

Gak terasa udah hampir 2 tahun saya tinggal di Depok, sebuah kota yang sebelumnya hanya saya singgahi beberapa kali dalam sebulan. Dan kini setiap hari saya memulai aktifitas dari kota ini. Kota yang tidak pernah saya bayangkan seperti apa sebelumnya. Hadeeuhh..tetiba jadi melankolis gini hehehe

Pagi ini setelah sholat subuh, nyiram tanaman di halaman depan, menggoreng pisang dan nyapu halaman belakang, saya masih sempet nyuci baju sebelum berangkat kerja. Angin dingin yang membelai daun-daun pisang, udara sejuk dan paparan hangat sinar matahari dari celah-celah daun pisang yang menyirami tubuh saya membawa angan-angan saya menjelajah kota Depok tercinta ini. Disinilah hidup saya bermula (lagi) setelah dulu pernah menyinggahi Lenteng Agung sebagai tempat tinggal selepas SD.

Bertemu teman-teman senasib se-kota Depok yang sering terjebak macet atau kena gangguan kereta api, nyobain makanan nostalgia pinggir jalan ala anak SD, ngopi-ngopi hore di Ranah Kopi atau uji nyali makanan pedes di lesehan Nasi Jancuk seberang Mares bahkan tanding futsal di belakang LIA.

Di kota Depok lah semua bermula. Disini, saya mulai memikirkan hal-hal yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Misalnya saja macet di Margonda, lampu merah Juanda, pertigaan TipTop, jln. Dewi Sartika, sulitnya angkot 07 setelah lewat jam 8 malem atau patahnya panthograph di UI atau gangguan wesel yang menyebabkan antrian kereta api. Hahaha. Walau bagaimana pun saya tetap mencintai kota ini.

Di kota Depok semuanya bermula. Akankah juga tempat saya menutup mata?

Akhir kata untuk mu kota Depok, selamat pagi ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar