Aku tak pernah mengira bahwa hari ini akan tiba. Angan-anganku tentang dirinya hanya berani ku bingkai di bawah langit malam. Dan kini, segalanya sempurna untuk sebuah impian yang hanya berani kubayangkan...
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Langit masih saja mendung walau hujan telah lama selesai. Genangan air sepanjang jalan pun telah surut dan hanya menyisakan tanah yang sedikit basah. Kesatria-kesatria tanpa kuda di belakang kemudi pun telah kembali melajukan roda-roda kendaraan serupa jalannya kehidupan.
Semilir angin dingin dan basah menebarkan hawa menggigil yang membuat bulu kudukku merinding. Ku naik kan restleting jaket abu-abu ku hingga pangkal leher. Berharap dapat meredam hawa dingin yang menusuk-nusuk.
Aku sedang berada di aula gedung sekolah ku dulu. Rasanya hampir seperti napak tilas bagiku. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat begitu saja di kepala ku. Ya Tuhan, betapa aku telah bertambah dewasa sejauh ini.
Ku julurkan kepala ku ke luar pintu, menatap langit dengan mendung yang belum juga turun. Dia terlambat. Ku lirik teman-temanku yang sedang sibuk melatih gerakan-gerakan flash mob. Ya, hari ini sahabatku berencana melamar gadis yang sudah dipacarinya setahun belakangan. Dengan bantuan teman-teman SMU dulu dia mempunyai ide untuk melamar dengan flash mob. Rasanya sangat kekinian, bukan?
Baru dua langkah aku berjalan kembali masuk aula, seseorang menepuk bahu ku.
"Menunggu ku?" tanyanya sambil tersenyum. Wajahnya basah dan beberapa helai rambutnya jatuh di dahinya.
"Ya! Dan terima kasih telah terlambat satu jam!" aku membentak.
"Maaf, hujan dan jalanan macet." dia membela diri.
"Dan kita hanya punya waktu kurang dari satu jam untuk mempersiapkan semuanya." ku rentangkan tangan ku ke arah teman-teman yang masih berlatih.
"Ku harap itu cukup." katanya lagi sambil tersenyum.
Aku tak menjawab kalimat terakhirnya. Tak kan ada bedanya. Yang penting dia sudah datang.
Dia berjalan ke tengah aula. Berbicara sesuatu pada ketua pelaksana sambil tangannya bergerak-gerak ke sana kemari. Aku tak dapat mendengar apa yang di bicarakannya.
"Dia datang!" kudengar seseorang di dekat jendela berteriak sambil menujuk kaca. Ketua acara mendekat dan meminta kami semua bersiap.
Aula sekolah terletak di lantai tiga. Jadi kami semua bergegas turun. Masih ada waktu lima menit sebelum gadis itu tiba. Kataku dalam hati.
Kami berlari menuju tempat persembunyian yang sudah di sepakati bersama. Sekarang tinggal diam dan menunggu sampai gadis itu datang.
Perlahan, pintu gerbang sekolah bergeser terbuka. Suara deritnya yang khas membuat kami terjaga. Gadis itu berjalan ke tengah lapangan basket yang sepi. Melemparkan pandangan ke seluruh penjuru sekolah. Oh Tuhan, ini saatnya.
Ketua acara mengangguk dan kami semua keluar dari persembunyian. Seseorang menyalakan tape dan sebuah lagu pun berkumandang. Aku menunggu sementara teman-teman mulai menari-nari di tengah lapangan. Gadis itu terpaku. Selama dua menit teman-teman menari dan berputar mengelilingi gadis itu di tengah lapangan.
Kemudian dua orang maju ke tengah lapangan dengan sebuah spanduk yang membentang. Sahabatku yang masih sembunyi pun akhirnya maju ke depan. Aku mengikutinya dari belakang. Musik berhenti. Semua terdiam.
"Will you marry me?" tanyanya.
Tak ada jawaban.
Ku serahkan bunga mawar merah yang sejak tadi kubawa pada sahabatku. Dia mengulangi pertanyaannya. Semua terdiam.
"Tidak." jawab gadis itu. Aku melotot kaget. Kami menahan napas. Setelah yang kami semua lakukan dia berkata "tidak"? Oh Tuhan, dia sungguh kejam.
"Kau terlalu sering bersamanya.." dia menunjuk lurus padaku. Aku merasa semua mata memandangku. Wajahku terasa panas!
".. Aku tidak ingin menjadi yang kedua setelah dia. Anggap saja hubungan kita kemarin seperti hiburan. Tapi untuk menikah denganmu sedang kau tetap berhubungan dengannya. Aku tidak siap. Kenapa..tidak kalian saja?" dia mengangkat bahu lalu melenggang pergi.
Sahabatku terdiam memandang kepergian gadis itu. Aku berdiri di sisinya.
"Dia...sudah pergi." kataku.
"Dia benar.." sahabatku berkata tiba-tiba. Aku menoleh padanya. Menunggu.
"Hubungan kami cuma hiburan. Itu sebabnya aku tak merasa sedih walau dia telah menolakku. Aku telah salah melamar gadis."
"Jadi sekarang, apa rencanamu?" tanyaku.
Dia menoleh padaku. Lalu mengulurkan rangkaian bunga mawar merah yang di pegangnya padaku. Dia tersenyum.
"Kau..."
Aku diam. Kami diam.
"..mau menikah denganku?"
Aku selalu menyukai hujan. Sesering apa pun dia datang.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Langit masih saja mendung walau hujan telah lama selesai. Genangan air sepanjang jalan pun telah surut dan hanya menyisakan tanah yang sedikit basah. Kesatria-kesatria tanpa kuda di belakang kemudi pun telah kembali melajukan roda-roda kendaraan serupa jalannya kehidupan.
Semilir angin dingin dan basah menebarkan hawa menggigil yang membuat bulu kudukku merinding. Ku naik kan restleting jaket abu-abu ku hingga pangkal leher. Berharap dapat meredam hawa dingin yang menusuk-nusuk.
Aku sedang berada di aula gedung sekolah ku dulu. Rasanya hampir seperti napak tilas bagiku. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat begitu saja di kepala ku. Ya Tuhan, betapa aku telah bertambah dewasa sejauh ini.
Ku julurkan kepala ku ke luar pintu, menatap langit dengan mendung yang belum juga turun. Dia terlambat. Ku lirik teman-temanku yang sedang sibuk melatih gerakan-gerakan flash mob. Ya, hari ini sahabatku berencana melamar gadis yang sudah dipacarinya setahun belakangan. Dengan bantuan teman-teman SMU dulu dia mempunyai ide untuk melamar dengan flash mob. Rasanya sangat kekinian, bukan?
Baru dua langkah aku berjalan kembali masuk aula, seseorang menepuk bahu ku.
"Menunggu ku?" tanyanya sambil tersenyum. Wajahnya basah dan beberapa helai rambutnya jatuh di dahinya.
"Ya! Dan terima kasih telah terlambat satu jam!" aku membentak.
"Maaf, hujan dan jalanan macet." dia membela diri.
"Dan kita hanya punya waktu kurang dari satu jam untuk mempersiapkan semuanya." ku rentangkan tangan ku ke arah teman-teman yang masih berlatih.
"Ku harap itu cukup." katanya lagi sambil tersenyum.
Aku tak menjawab kalimat terakhirnya. Tak kan ada bedanya. Yang penting dia sudah datang.
Dia berjalan ke tengah aula. Berbicara sesuatu pada ketua pelaksana sambil tangannya bergerak-gerak ke sana kemari. Aku tak dapat mendengar apa yang di bicarakannya.
"Dia datang!" kudengar seseorang di dekat jendela berteriak sambil menujuk kaca. Ketua acara mendekat dan meminta kami semua bersiap.
Aula sekolah terletak di lantai tiga. Jadi kami semua bergegas turun. Masih ada waktu lima menit sebelum gadis itu tiba. Kataku dalam hati.
Kami berlari menuju tempat persembunyian yang sudah di sepakati bersama. Sekarang tinggal diam dan menunggu sampai gadis itu datang.
Perlahan, pintu gerbang sekolah bergeser terbuka. Suara deritnya yang khas membuat kami terjaga. Gadis itu berjalan ke tengah lapangan basket yang sepi. Melemparkan pandangan ke seluruh penjuru sekolah. Oh Tuhan, ini saatnya.
Ketua acara mengangguk dan kami semua keluar dari persembunyian. Seseorang menyalakan tape dan sebuah lagu pun berkumandang. Aku menunggu sementara teman-teman mulai menari-nari di tengah lapangan. Gadis itu terpaku. Selama dua menit teman-teman menari dan berputar mengelilingi gadis itu di tengah lapangan.
Kemudian dua orang maju ke tengah lapangan dengan sebuah spanduk yang membentang. Sahabatku yang masih sembunyi pun akhirnya maju ke depan. Aku mengikutinya dari belakang. Musik berhenti. Semua terdiam.
"Will you marry me?" tanyanya.
Tak ada jawaban.
Ku serahkan bunga mawar merah yang sejak tadi kubawa pada sahabatku. Dia mengulangi pertanyaannya. Semua terdiam.
"Tidak." jawab gadis itu. Aku melotot kaget. Kami menahan napas. Setelah yang kami semua lakukan dia berkata "tidak"? Oh Tuhan, dia sungguh kejam.
"Kau terlalu sering bersamanya.." dia menunjuk lurus padaku. Aku merasa semua mata memandangku. Wajahku terasa panas!
".. Aku tidak ingin menjadi yang kedua setelah dia. Anggap saja hubungan kita kemarin seperti hiburan. Tapi untuk menikah denganmu sedang kau tetap berhubungan dengannya. Aku tidak siap. Kenapa..tidak kalian saja?" dia mengangkat bahu lalu melenggang pergi.
Sahabatku terdiam memandang kepergian gadis itu. Aku berdiri di sisinya.
"Dia...sudah pergi." kataku.
"Dia benar.." sahabatku berkata tiba-tiba. Aku menoleh padanya. Menunggu.
"Hubungan kami cuma hiburan. Itu sebabnya aku tak merasa sedih walau dia telah menolakku. Aku telah salah melamar gadis."
"Jadi sekarang, apa rencanamu?" tanyaku.
Dia menoleh padaku. Lalu mengulurkan rangkaian bunga mawar merah yang di pegangnya padaku. Dia tersenyum.
"Kau..."
Aku diam. Kami diam.
"..mau menikah denganku?"
Aku selalu menyukai hujan. Sesering apa pun dia datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar