Senin, 25 Juli 2011

Letak Batas Kesabaran


Semalam sambil duduk- duduk di ruang tengah, kakak saya bercerita tentang masalah di tempat kerjanya, rencananya dia akan dimutasi. Kakak meminta pendapat saya terhadap masalah ini. Pembicaraan kemudian berlanjut ngalor ngidul dan akhirnya sampai pada sebuah kisah yang menurut saya cukup memilukan.

Berusia sekitar awal empat puluhan dengan dua putri usia sekolah (SD dan SLTP), Ibu (sebut saja begitu) harus bekerja sendiri untuk menghidupi keluarganya, membayar cicilan rumah, menanggung beban kartu kredit karena ditipu rekan kantor sebesar 6 juta rupiah dan menanggung separuh biaya rumah tangga Ayah  (sebut saja begitu) dan istri mudanya. Dengan gaji tak lebih dari 1,5 juta, bila dihitung normal semua pengeluaran itu pasti tak akan bisa ditutup oleh Ibu.

Namun sepertinya beban Ibu dalam hal ekonomi tersebut belum cukup menyiksa batinnya, Ibu seringkali mendapati barang-barangnya telah dijual oleh Ayah (kompor gas beserta tabungnya, televisi, DVD sampai peralatan masak) atau anak-anaknya yang tidur dengan menahan lapar karena Ayah datang dan menghabiskan makanan yang ada. Memahami keadaan keluaganya yang sulit, Adik kemudian berinisiatif untuk memelihara ayam. Namun seringkali Adik  mendapati ayam dan telurnya telah berkurang karena dijual Ayah. Baru-baru ini Ibu bahkan tidak bisa menyediakan alat tulis untuk anak-anaknya.

Bicara soal sabar, bagi Ibu batas kesabarannya mungkin sudah tidak ada. Sudah puluhan juta doa dipanjatkan dan sudah berliter-liter air mata diteteskan  selama lebih dari 5 tahun. Namun  Ayah belum juga berubah sedang Ibu tak pernah bisa marah. Ayah tak pernah memberi nafkah padahal Ibu dan anak-anaknya pernah hampir tidur di luar karena tidak bisa membayar cicilan rumahnya. Ibu pernah meminta cerai tapi Ayah tidak mau mengabulkanya.

Sabar bagi setiap orang mungkin berbeda-beda, tapi yang jelas sabar itu tidak ada batasnya. Semoga Ibu dan anak-anaknya selalu diberikan kekuatan dan ketetapan hati. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar