Sudah sejak lama mata saya ini "buta" alias rabun. Minus 1,5 cukup membuat saya menjadi orang yang sedikit "sombong", seringkali saya tidak mengenali orang dalam jarak pandang lebih dari lima meter. Agak aneh memang, karena menurut banyak teman saya dengan minus sebesar itu, seharusnya saya masih bisa melihat dengan jelas. tapi buktinya, inilah keadaan saya.
Suatu pagi, seperti biasa berjalan dengan tergesa-gesa saat melewati rel kereta api untuk berangkat kuliah, saya menyempatkan diri untuk menyapa tukang koran langganan. Sudah sejak SMP (sekarang SLTP) saya berlangganan dengan "si Boss", begitu saya menyapanya, awal mulanya ya karena dialah yang menolong saya saat hampir tertabrak kereta. Setan Budek menutup kuping saya, begitu komentar orang-orang.
Saat kaki saya melangkahi besi terakhir dari rangkaian rel kereta, seseorang menarik tangan saya dan memeluk saya erat-erat. Deg! siapa yang berani-berani meluk saya nih? Saya mencoba melepaskan pelukan orang itu tapi tidak berhasil, akhirnya ya pasrah saja.
Setelah beberapa lama akhirnya pelukan di tubuh saya mengendur. Jreng! Nampaklah oleh saya sebuah wajah penuh senyum yang sudah saya hapal betul. "Shiro....!" teriak saya kala itu.
Rosidah, teman semasa saya SMK dulu ini biasa disapa "Shiro' karena amat menyukai karakter serigala mungil bernama Shiro dalam serial kartun Innuyasha. Jadilah saya dan teman-teman memanggilnya demikian hingga sekarang.
Shiro masih tersenyum pada saya, dia lalu mengajak saya menepi dan memulai obrolan. Pertemuan saya dengannya hari itu membuat saya merasa bersemangat, menjadi bahan bakar saya selama beberapa hari kemudian. Padahal hanya pertemuan kecil saja, sudah bisa membuat saya merasa bersemangat bagaimana jika yang terjadi adalah reuni? Wah, semangat saya bisa berumur panjang selama setahun nih...
Selasa, 22 Februari 2011
Teman Lama Di Rel Kereta Api
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar