Saat membicarakan sesuatu yang pedas, kita pasti akan teringat akan jenis bumbu yang satu ini, kepopulerannya bahkan mengalahkan bumbu lain yang memiliki kadar kepedasan serupa. Cabai. Kesukaan orang Indonesia terhadap penggunaan berlebih pada jenis bumbu yang satu ini seakan menggeser urutannya hingga menyamai bahan-bahan pokok dalam membuat masakan.
Cabai termasuk tumbuhan anggota genus Capsicum yang secara alami tumbuh di daerah pegunungan dan ternyata masih saw famili (solanaceae) dengan tanaman kentang, tomat, terung, ranti, dan tekokak, sehingga kemungkinan adanya kesamaan dalam serangan hama dan penyakit.
Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempuma, artinya dalam satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga betina dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan. Karena itu, tanaman cabai yang ditanam di lahan dalam jumlah yang banyak, hasilnya lebih baik dibandingkan tanaman cabai yang ditanam sendirian.
Pernyerbukan tanaman cabai biasanya dibantu angin atau lebah. Kecepatan angin yang dibutuhkan untuk penyerbukan antara 10 — 20 km/jam (angin sepoi-sepoi). Angin yang terlalu kencang justru akan merusak tanaman. Sedangkan penyerbukan yang dibantu oleh lebah dilakukan saat lebah tertarik mendekati bunga tanaman cabai yang menarik penampilannya dan terdapat madu di dalamnya.
Cabai dipercaya berkhasiat untuk mengobati banyak penyakit, misalnya sebagai terapi penyembuhan kejang, sakit tenggorokan, alergi, memperlancar sirkulasi darah dalam jantung, meringankan pegal, rematik, sakit gigi, gatal-gatal, sesak napas, menambah napsu makan, bisul, mengandung antibiotic dan antioksidan, mengurasi terjadinya penggumpalan darah, menurunkan kadar kolesterol, melegakan hidung tersumbat pada sinusitis, mengurangi batu berdahak, meredakan migrain dan masih banyak lagi.
Rasa pedas pada cabai memiliki tingkatan tersendiri yang diukur menggunakan Scoville rating, dari pengukuran ini telah diperoleh 10 cabai paling pedas sedunia, diantaranya:
1. Bhut Jolokia (Scoville rating : 855.000-1.050.000).
Telah dikonfirmasikan oleh Guiness World Record sebagai cabai terpedas di dunia, menggantikan Red Savina. Berasal dari daerah Assam di timur laut India, tumbuh di Nagaland dan Manipur. Terdapat sedikit keraguan mengenai spesies dari cabai ini, apakah masuk ke dalam capsicum frutescens atau capsicum chinense, namun berdasarkan tes DNA diketahui bahwa ini adalah spesies hibrida, dengan dominan capsicum chinense dan sedikit capsicum frutescens.
2. Red Savina Pepper (Scoville rating : 350.000-580.000).
Varietas khusus dari cabai Habanero, yang dikembangbiakkan khusus agar mendapat cabe yang lebih pedas, besar dan berat.
Frank Garcia di Walnut, California adalah pengembang cabai Red Savina ini. Metodenya masih rahasia dan tidak diketahui umum. Cabai ini memegang rekor sebagai cabai terpedas di dunia dari tahun 1994 sampai 2006 dan dicatat oleh Guinness World Records. Namun pada Februari 2007, cabai ini harus turun dari singgasananya, dikalahkan oleh yang ada saat ini di urutan 1.
3. Habanero pepper (Scoville rating : 100.000–350.000).
Cabai ini adalah salah satu cabai yang amat pedas pada genus-nya, yaitu capsicum. Saat mentah berwarna hijau, saat matang warnanya oranye atau merah. Namun kadang terlihat juga warna putih, coklat dan bahkan pink! Ukuran panjang sekitar 2-6 cm. Cabai ini banyak berasal dari Yucatan dan daerah sekitar pantainya. Nama cabai ini berasal dari kota di Cuban, kota di La Habana. Walaupun tempat itu bukanlah tempat asalnya, namun ini banyak diperjualbelikan disana.
4. Thai Pepper (Scoville rating : 50.000–100.000).
Thai Pepper dikenal di Indonesia sebagai cabai rawit. Banyak terdapat di Thailand dan tetangganya seperti Kamboja, Vietnam, Indonesia, dan sekitarnya.
5. Cayenne pepper (Scoville rating : 30.000-50.000).
Benar-benar cabai yang menunjukkan ke-cabai-annya melalui warnanya. Namanya berasal dari kota Cayenne di French Guiana. Cayenne atau Guinea Pepper atau Bird Pepper adalah cabai merah yang pedas, digunakan untuk bumbu masakan baik dalam bentuk utuh ataupun bubuk dan untuk keperluan medis digunakan sebagai obat herbal.
6. Serrano Pepper (Scoville rating : 10.000-23.000).
Cabai ini berasal Meksiko, di daerah pegunungan Meksiko. Rasa pedasnya menggigit, lebih pedas dari jalapeño, dan biasanya dimakan mentah - mentah. Bentuknya memang mirip dengan cabai rawit dari Indonesia, tapi ini adalah spesies yang berbeda.
7. Jalapeño (Scoville rating : 2500-8000).
Bentuknya kaya terong, tapi itu bukan terong, itu cabai jalapeño. Cabai ini sudah termasuk panas, dan sudah dapat memberikan sensasi terbakar saat memakannya (pedas). Panjangnya antara 5 - 9 cm. Juga ini berasal dari Meksiko. Di Meksiko terdapat lahan seluas 160 km persegi yang hanya digunakan untuk menanam cabai jenis ini! Daerahnya terutama di lembah sungai Papaloapan, sebelah utara Veracruz.
8. Anaheim Pepper (Scoville rating : 500-2500).
Nama Anaheim sebenarnya adalah nama sebuah daerah. Nama itu diberikan karena ada seorang petani bernama Emilio Ortega yang membawa benih cabe ini ke daerah Anaheim pada awal tahun 1900. Sebutan lainnya adalah California Chile atau Magdalena. Varietas cabai ini yang tumbuh di New Mexico memiliki tingkat kepedasan yang lebih tinggi, yaitu sekitar 4500 sampai 5000 Scoville units.
9. Pimento (Scoville rating : 100-500).
Pimento atau cabai cheri adalah cabe yang besar, merah berbentuk seperti hati, panjang antara 7 - 10 cm lebar 5-7 cm. Daging buahnya termasuk manis, berair, dan lebih beraroma dibandingkan dengan paprika merah. Namum beberapa varietas dari pimento ini cukup pedas. Pimento atau pimentão sendiri adalah bahasa Portugis dari "bell pepper".
10. Bell pepper (Scoville rating : 0).
Bell pepper ini biasanya terdapat dalam 4 warna, yaitu merah, kuning, hijau, oranye. Bell Pepper kadang dikelompokkan ke dalam cabai yang kurang pedas atau "sweet peppers" (kalo gak pedas, tapi kenapa cabai ini termasuk dalam daftar cabai terpedas di dunia, ya?). Namun terdapat paprika langka berwarna putih dan ungu, tergantung dimana mereka ditanam dan dari varietas apakah mereka. Paprika hijau berasa lebih pahit dibandingkan dengan paprika merah, kuning atau oranye.
Para ilmuan memperkirakan bahwa cabai telah ada sekitar 6000 tahun yang lalu dan digunakan pertama kali oleh orang-orang di Ekuador sebagai komoditi pedagangan dan bumbu utama masakan yang diyakini dicampur dengan jagung dan biji-bijian. Kedatangan Christopher Colombus setelah ribuan tahun cabai digunakan di Ekuador dan membawanya ke Eropa lah yang membuat tanaman ini tersebar ke seluruh dunia.
Oleh pedagang Portugis melalui pelabuhan di Afrika atau membawanya langsung menyeberangi Samudra Pasifik akhirnya cabai asal Amerika Selatan sampai ke Asia.
Orang-orang Asia seperti Cina, Jepang, Korea dan Indonesia mengenal cabai melalui para pedagang Portugis pada abad ke 16. Awalnya mereka membawa cabai ke Afrika hingga sampai ke India pada tahun 1948. Di kawasan Asia, Indonesia mempunyai kesempatan pertama untuk mengenal cabai pada tahun 1540, sembilan tahun kemudian para pedagang Portugis membawa cabai ke Cina, Jepang dan Korea. Pada tahun 1564 Filipina mendapat giliran mengenal cabai saat kapal Spanyol melewati jalur perdagangan menuju kepulauan Melanisia dan kawasan Mikronesia.
Setelah kedatangannya di kawasan Asia, cabai telah mempengaruhi berbagai rasa dan cara pengolahan makanan. Korea misalnya, kimchi adalah makanan tradisional Korea yang disiapkan saat angin dingin mulai bertiup (sekitar awal November hingga pertengahan Desember) sebagai persediaan sayuran di musim dingin ketika sayuran segar sulit ditemukan. Sebelum abad ke-19, kimchi hanya dibuat dari sayuran asli Korea dan kini dari 187 jenis kimchi di Museum Kimchi Pulmuone yang ada di Seoul, cabai dapat ditemui sebagai bumbu pokok dalam resep pembuatan kimchi. Orang Korea juga sering mengucapkan "kimchi" sewaktu berfoto agar terlihat sedang tersenyum sebagai pengganti kata "cheese" yang sering diucapkan penutur bahasa Inggris.
Di Indonesia sendiri penggunaan cabai pada resep masakan sangat mudah kita jumpai, dan daerah yang paling terkenal dengan masakan pedasnya adalah Padang dengan resep rendang sebagai andalan. Ketenaran rasa pedas pada rendang bahkan membuat Malaysia iri dan sempat berniat mengklaimnya sebagai masakan asli mereka.
Cabai juga mempengaruhi masakan Indonesia yang lain, misalnya sayur asem yang wajib disajikan dengan sambal dan lalapan walau rasa sayurnya sendiri sudah pedas karena penambahan cabai dalam pengolahannya.
Tapi tahukah Anda bahwa kulit cabai tidak terasa pedas? Lalu apa yang membuat cabai terasa pedas? Capsaicin, adalah zat yang mengakibatkan cabai terasa pedas dan panas pada lidah saat kita mengkonsumsinya. Zat ini juga mengakibatkan para pengkonsumsinya merasa ketagihan dan kecanduan, itulah yang mebuat banyak orang begitu menyukai cabai dan tidak mau berhenti mengkonsumsinya.
Cabai juga memiliki mitos tersendiri. Penggunaan cabai dalam jumlah ganjil dipercaya akan menghasilkan rasa yang lebih pedas dibanding penggunaan cabai dalam jumlah genap. Namun, hingga saat ini mitos tersebut belum dapat dijelaskan secara logis.
Kamis, 27 Januari 2011
Sekilas Tentang Cabai
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar