Langkahnya gontai, susuri jalan batu dengan mata separuh terpejam. Langit pagi masih gelap, matahari belum sepenuhnya naik. Embun pagi di ujung dedaunan juga belum kering. Lambungnya kosong sejak semalam, perih, keroncongan minta diisi nasi. Kaki-kaki kecilnya lemas terseret-seret di sepanjang jalan.
“Jangan pulang dengan tangan kosong! Pergi sana!” perintah nenek setiap pagi pada gadis kecil dengan langkah gontai tadi.
Usianya baru lima tahun, ayahnya telah meninggal sedang ibunya menikah dengan pria lain. Gadis kecil lalu diasuh nenek dari ibunya, namun kehidupan gadis kecil tidaklah seceria anak-anak kecil lainnya.
Setiap hari gadis kecil pergi ke ladang-ladang, ke sawah-sawah, ke kebun-kebun, ke halaman-halaman rumah orang, diam-diam mengambil hasil panenan dan membawanya pulang. Setiap hari gadis kecil pergi mencuri. Tiap kali curiannya bertambah banyak, makin banyak pula makanan yang diberikan padanya. Namun, jika tak ada yang dibawanya pulang maka dia harus bersiap mendapat pukulan. Dan setiap kali pukulan-pukulan itu akan lebih lama dibanding sebelumnya.
Gadis kecil pergi ke sawah, mencari-cari padi. Nenek dari ayahnya melihatnya datang. Wajah nenek terlihat sinis, matanya menyipit dan bibirnya berkerut-kerut. Gadis kecil mendekati nenek itu dengan langkah hati-hati, takut.
“Nek, minta padinya…” pinta gadis kecil.
“Pergi sana!” hardik si nenek.
Gadis kecil lalu menjauh, duduk di bawah sebuah pohon, memanjangkan kakinya yang lelah. Menengadah, mencoba melupakan lambungnya yang perih. Air matanya meluncur turun dan berhenti di ujung bibirnya yang kering. Asin. Tenggorokannya kering.
“Ya Allah, jangan biarkan aku dipukul hari ini.” pinta gadis kecil sambil menangis.
“Ambil padi itu lalu pulanglah, sawah ini milik ayahmu...” seorang bapak tiba-tiba berdiri di dekat gadis kecil dan bicara padanya. Gadis kecil tidak kenal bapak itu dan tidak pernah melihatnya.
“Ambillah cepat, biar aku yang mengawasi.” Kata bapak itu lagi.
Gadis kecil bangkit lalu mengambil padi-padi dan berlari pulang. Dari jauh dia melihat neneknya mengamati apa yang dilakukannya tapi dia tidak melihat bapak tadi. Dia tidak peduli, yang penting hari ini dia tidak akan dipukul.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar