Minggu, 27 Februari 2011

Ingat Dia

Sendirian. Kini aku sendirian.

Ku lirik jam dinding yang masih terus berteriak dalam udara lembab di kamarku. Suaranya masih sama menjengkelkan ketika pertama kali aku membelinya. Dia terus berteriak tanpa peduli aku yang sudah muak dengar ocehannya. Aku hanya ingin diam, tidak melakukan apapun.

Radioku di bawah meja masih bicara, mengalunkan lagu permintaan orang-orang lelah. Suara serak seorang perempuan berdengung-dengung di telingaku, menyiarkan permintaan orang-orang lemah tadi. Salam bagi keluarga di rumah, teman di kantor atau orang terkasih.

Lalu berhenti, menggantikan suara dari penyiar yang hanya bicara selama dua menit. Menunggu. Sebuah nada lemah keluar dari perut radioku. Sial! Aku terperangkap! Sebuah lagu tak asing melesak masuk ke kedua telingaku. Memaksa untuk tetap berada disana.

Air mataku jatuh, tak sempat kusentuh. Sebuah lagu yang mengingatkanku padanya. Seorang pria dengan kasih sayang luar biasa. Aku tahu aku telah kalah. Menyerah begitu mudah. Aku mengingatnya bagai seorang pahlawan, melindungiku dari peluk kesedihan, selamatkan aku dari sepi dan kesendirian.

Senyumnya bagai meleburku dalam kebahagiaan. Peluknya melindungiku dari rasa tak aman. Lembut tangannya mengusap kepalaku saat ku salah, menepuk bahuku saat mendukungku. Tuhan.. aku baru sesaat bersamanya.

Aku tak sanggup menyentuh radio itu. Kubiarkan saja rasa sakit dan kesedihan merampas kesadaranku. Lagu itu mengingatkanku padanya dan masih menangis jika mengingatnya. Sebentar lagi 3 Maret, ulang tahunnya, tapi aku tak dapat mengucapkan apa-apa. Aku tidak bisa.

Bajuku basah. Aku tahu aku harus berhenti, harus terima kenyataan ini. Merelakan agar mudah langkahnya. Semoga dia dapat mendengar doaku, hanya itu yang dapat aku berikan padanya kini.


Bapak, selamat ulang tahun. Kami selalu merindukanmu... !!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar